Gaudeamus Igitur

“Mel, nanti gw datang ya wisudaan lo…”

Ditengah-tengah kesibukan mempersiapkan kelulusan dan wisuda, pesan sms, YM, BBM, atau sekelumit kalimat tersebut di tengah-tengah percakapan telepon dari sahabat-sahabat semasa SMU dulu memberikan suatu efek euforia tersendiri buat gw. Meskipun pada awalnya banyak sahabat yang tidak berani menjamin kepastian kedatangan mereka ke venue wisuda Institut Teknologi Bandung, the one and only Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Hal ini sangatlah wajar mengingat sahabat-sahabat gw ini berdomisili di luar kota Bandung, (beberapa) punya kesibukan selangit sehingga kedatangan mereka pastilah membutuhkan suatu upaya tersendiri.

Segala kesibukan untuk menyambut wisuda benar-benar melelahkan fisik dan mental, rasanya segudang kehebohan mengerjakan tugas akhir, seminar, dan sidang saja tidak cukup untuk melepas para lulusan baru ke dunia luar kampus. Siapapun yang diwisuda di luar kota asalnya pasti pernah mengalami kehebohan persiapan ini. Mulai dari persiapan akomodasi, kebaya, salon, foto studio, sampai koordinasi jadwal orang tua gw dengan rentetan acara yang harus mereka hadiri. Saking hectic nya, gw tidak terlalu ngeh siapa saja yang akan datang pada hari-H.Dari grup pertemanan di BBM sekilas beberapa di antara mereka mengemukakan kesulitan transportasi ke Bandung atau masalah jadwal. Gw berusaha tidak ambil pusing. Prinsip gw, kalau ada yang bisa datang syukur alhamdulillah, sebaliknya tidak apa. Gw cuma berpesan pada mereka untuk mengandalkan sms dan telepon saja kalau mau mencari gw karena suasana pasti akan sangat heboh dan sinyal handphone pasti akan jamming.

Hari-H wisuda tiba. Gw dan ibu bapak sudah terjaga dari jam 3 pagi untuk make-up, pakai kebaya, sarapan, sampai memarkir mobil di kampus dan berjalan kaki ke Sabuga melewati terowongan Taman Sari. Saat sidang terbuka berlangsung, gw merasa antiklimaks. Bukannya bersemangat, gw malah merasa sangat lelah dan kuyu, mata gw mengantuk, dan perut gw lapar. Gw masih tetap sangat bersyukur dan bangga bisa lulus Cum Laude dari kampus ini, hanya saja rasa lelah mendominasi pagi itu. This ceremony kills me, pikir gw.

Setelah Pak Rektor mengetuk palu dan menutup sidang terbuka, para wisudawan dan orang tua berhamburan keluar auditorium. Begitu pula dengan gw yang sibuk mencari wisudawan dari jurusan lain se-almamater SMU 28 untuk segera berfoto bersama. Saat  menunggu kedatangan mereka, tiba-tiba terjadi suatu hal yang mengubah mood gw seratus delapan puluh derajat hari itu.

Sahabat-sahabat gw datang. They made it. Mereka sampai ke Bandung dan berhasil menyelinap ke selasar Sabuga untuk menemui gw dan wisudawan lainnya. Bahkan ada beberapa orang yang gw sangat tidak menyangka mereka bisa datang. Dalam hitungan detik, segala sesuatunya terasa sangat membahagiakan. Gw diterjang oleh ucapan selamat, jabat tangan, pelukan, bunga, dan kilatan blitz foto (oke, ini mulai terdengar ngartis).  Dari seluruh prosesi wisuda, ini adalah saat yang paling mengharukan buat gw. Bagaimana tidak, mereka menempuh ratusan kilometer untuk menemui gw dan teman-teman lainnya (yang paling luar biasa adalah Sidiq yang menempuh perjalanan lewat kereta api dari Yogya ke Bandung dan langsung kembali lagi pada malam harinya), berusaha bangun pagi di hari Sabtu hanya untuk sampai tepat waktu di Bandung, mengesampingkan sejenak kesibukan mereka (terutama tim dokter dari RS Tangerang yang sampai harus menyetir mobil seperti bus antar kota antar propinsi untuk mengejar waktu, terima kasih banyak buat Dani, Shara dan Renny, khusus buat Shara i owe you a lot), sampai setia menunggui arak-arakan wisuda ITB yang heboh seperti mau perang dan membawakan minum buat gw karena gw terancam dehidrasi saat itu.

Yang gw rasakan saat itu benar-benar campur aduk. Walaupun sangat bahagia dan terharu, gw berusaha menahan air mata yang mulai turun dari mata yang sudah basah ini karena gw hanya ingin merayakan sisa hari ini dengan keceriaan, engga mau sedih-sedihan (takut juga eyeliner gw beleber kemana-mana hehe). Seperti layaknya judul lagu wajib prosesi wisuda: Gaudeamus Igitur (English: So, Let’s Us Rejoice).

 

kami yang diwisuda di hari itu

 

Gw sangat bersyukur punya kalian semua. Teman-teman yang berkali-kali membuktikan diri sebagai sahabat. Kalian hadir di saat paling membahagiakan dalam hidup gw dan turut merayakannya, namun juga tetap bertahan untuk mendampingi di saat-saat tersulit. Kalian semua punya andil yang besar dalam perjalanan gw sampai menjadi sarjana, dengan cara kalian masing-masing tentunya. Thank you, i am forever grateful. 

 

Today is ours because of them all

 

Gw punya pencapaian lainnya selain resmi bergelar Sarjana Sains hari itu.

Pencapaian gw lainnya adalah memahami bahwa tidak akan ada kesuksesan tanpa iringan doa dan dukungan orang-orang tersayang di sekitar kita.

Semoga di lain waktu, akan tiba giliran gw untuk melakukan fungsi seorang sahabat sebagaimana yang telah berhasil kalian lakukan dengan sangat baik di hari ini.

When you find best friend, you find treasure (Cars 2).

Salam Ganesha!

One comment

  1. Leuukk!!! wish I were there Mell,, so proud of you all and your achievements…😀 xoxoxo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: