Balancing my brain, balancing my life

Dulu gw pernah iseng mengisi kuis psikologis di majalah.

Menurut kuis tersebut, gw adalah tipe orang yang dominan menggunakan otak kiri gw sehari-hari.

Kurang lebih ada benarnya. Dari SMU gw terbiasa berkutat menyelesaikan persoalan ilmu-ilmu eksakta di jurusan IPA. Kuliah juga mengharuskan otak kiri gw bekerja keras dalam menghapal atau menganalisis soal yang gw jumpai dalam tugas dan ujian.

Tanpa gw sadari, ternyata belahan otak kanan gw rindu untuk digunakan kembali.

Selain punya minat yang tinggi dalam bidang eksakta, sesungguhnya gw adalah peminat seni, khususnya tari. Dulu sekali, gw pernah terlibat sebagai penari. Jam terbang menari gw tidak bisa dibilang tinggi walaupun gw menari dari jaman TK hingga SMU. Malah jaman SMU dulu hidup gw selalu penuh dengan kegiatan menari saman. Dari festival ke festival, undangan tampil di satu tempat ke tempat lain. Kadang jenuh, tetapi gw cukup menikmati rutinitas ini.

Waktu berlalu hingga gw beranjak ke bangku kuliah. Gw tidak bisa menyisihkan waktu luang untuk kembali menari saat itu. Hidup gw benar-benar monoton. Akademik dan organisasi, tidak tersisa lagi ruang untuk menikmati seni dan menari.

Hingga suatu saat gw kembali menetap di Jakarta untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas akhir. Tinggal di Jakarta membuat gw kembali berjumpa dengan kawan-kawan SMU, termasuk kawan lama gw sesama penari saman dulu, Ega.

Sudah lama gw tahu bahwa Ega masih aktif menari di suatu kelompok tari tradisional. Di suatu perjumpaan, gw pernah berbincang dengannya dan berharap suatu saat dia akan mengajak untuk menonton pertunjukkan tari lagi.

Akhirnya suatu saat kita berdua pergi menonton Festival Tari di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Awalnya Ega menyangka dia akan mengajak gw menonton pertunjukkan tari tradisional, tetapi rupanya dia salah jadwal. Jadwal pertunjukkan hari itu ternyata menyuguhkan balet kontemporer. Sejenak gw ragu, apakah bisa menikmati tari ini karena sudah lama sekali tidak menonton pertunjukkan tari secara langsung. Namun, saat pertunjukkan mulai, keraguan gw hilang. Gw benar-benar menikmati dan merasakan kerinduan yang mendalam dengan dunia pertunjukkan tari.

Selanjutnya kami berdua sering bertualang menonton pertunjukkan tari, seringnya berdua saja mirip orang pacaran. Hampir di setiap kesempatan, gw selalu terpukau dalam pertunjukkan yang dibawakan oleh penarinya. Walaupun beberapa kali, gw juga tidak berhasil menangkap makna cerita dari tari tersebut, misalnya saja Matah Ati yang dipentaskan dengan bahasa Jawa dari awal sampai akhir, berhasil membuat gw pusing main tebak-tebakkan arti dialognya selama pertunjukkan.

Bahasa bukan jadi suatu penghalang buat gw untuk menikmati tari. Jika terbentur dengan kendala bahasa, gw mencoba menikmati hal lain dari pertunjukkan itu. Bisa dari segi geraknya, walaupun ini juga kadang jadi kendala karena keterbatasan gw dalam memahami eksplorasi gerak penarinya (meskipun sudah baca buku program acara sebelumnya, maklum saya bukan seniman). Atau dari segi kostumnya, mengapa mereka memilih menggunakan kostum tersebut, bagaimana kostum ikut berkontribusi memberikan sentuhan indah terhadap gerak sang penari. Atau dari segi dekor panggungnya yang luar biasa, seperti saat pertunjukkan Matah Ati, dengan panggungnya yang miring 15 derajat. Atau dari segi tata cahayanya, bagaimana lighting dapat menunjang penampilan penari secara keseluruhan dan menciptakan efek visual yang luar biasa. Atau dari segi penontonnya, orang-orang dengan jiwa apresiasi yang tinggi terhadap seniman negeri ini.

Banyak hal yang gw bisa dapatkan dari sebuah pertunjukkan tari.
Buat gw, pertunjukkan tari lebih menghibur dan memberikan efek visual luar biasa daripada film 3D apapun di bioskop.
Buat gw, pertunjukkan tari mengajarkan nilai-nilai berharga dalam kehidupan yang mungkin sudah mulai terabaikan, salah satunya adalah kedisiplinan dan kerja keras tak kenal lelah para penarinya untuk menghasilkan pertunjukkan terbaik.
Buat gw, pertunjukkan tari bukan hanya sebuah sajian visual, tetapi perjalanan mata, hati, dan telinga dalam menghargai keindahan serta kehidupan.

Setelah sekian lama, akhirnya gw dapat mendayagunakan belahan otak kanan gw kembali.

Kerja keras otak kiri gw kini diimbangi dengan kontribusi otak kanan.

Melalui pertunjukkan tari, otak kanan gw dapat kembali menangkap keindahan seni dan menerjemahkannya sebagai inspirasi.

Menjadikan hidup gw lebih berwarna dan seimbang🙂

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: