The study of life

15 Desember 2010

Semester 7

Minggu ke-2 Ujian Akhir Semester ITB

Setelah menempuh tujuh semester di ITB gw suka berpikir ternyata gw sudah menempuh sekian banyak ujian di kampus gajah ini,

Mulai dari yang terjadwal sampai dadakan.

Dari yang tutup buku dan hafal mati sampai buka buku dan (tetap) tidak menemukan jawabannya di sana.

Dari tingkat kesulitan rendah (paramater: keluar ruangan sambil tersenyum) sampai selangit (parameter: muka kusut dan tidak ingin membahas soalnya)

Di sini gw tidak akan membahas apa ujiannya atau bagaimana gw menyelesaikannya. Toh, dalam suatu perjuangan hasil akhir bukanlah yang paling penting. Proses lah yang paling berperan dalam menentukan kesuksesan yang dapat diraih.

Bicara tentang proses, gw dan teman-teman dekat di Mikrobiologi punya cara untuk mengakalinya. Kita terbiasa untuk menghadapi ujian dengan belajar bersama. Materi ujian yang lebih banyak hapalan dan analisis studi kasus membuat kita sepakat bahwa menghadapinya bersama lebih berprospek daripada bingung sendirian.

Dari sekian banyak ujian yang kami tempuh melalui belajar bersama, ada momen-momen tertentu yang benar-benar tidak terlupakan. Semester demi semester kami berjuang menyelesaikan ujian demi kehidupan akademis yang lebih baik.

 

  • Semester 3

 

Ini adalah semester pertama di mana kami memasuki program studi. Jaman TPB dulu, menghadapi ujian dapat dengan mengandalkan bahan ujian dari bundel soal GAMAIS saja. Begitu masuk prodi, semuanya langsung berubah 180 derajat. Semester ini banyak kuliah kimia yang wajib kami ambil. Meneruskan warisan fisika jaman TPB, kami juga diwajibkan mengambil mata kuliah Biofisika. Tidak heran, di semester 3 ini kebanyakan mahasiswa Mikrobiologi masih merasa tidak punya identitas sebenarnya jurusan apa yang mereka tekuni. Kimia Analitik (KA) melibatkan perhitungan persamaan reaksi yang kompleks, mulai dari reaksi redoks sampai persamaan titrasi balik yang benar-benar bikin jungkir balik. Awalnya, kami belajar KA hanya dengan latihan soal-soal tahun lalu saja karena biasanya soalnya mirip. Sialnya, pada tahun kami dosennya bereksperimen membuat soal baru dengan materi yang benar-benar fresh. Alhasil, nilai benar-benar seadanya dan kami kapok hanya mengerjakan soal-soal lama saja dan mulai mengerjakan soal-soal baru atau bisa dibilang benar-benar menghapalkan step by step cara menyelesaikan soalnya. Pada waktu ujian Biofisika, kami diperbolehkan untuk membuat semacam cheat sheet berisi rumus-rumus. Akal bulus mahasiswa kami bekerja dengan membuat cheat sheet yang berisi sebanyak mungkin soal-soal dari buku teks, tidak peduli betapa kecilnya tulisan kami. UTS dilewati dengan aman, tetapi ternyata dosennya kembali bereksperimen membuat soal lain yang tidak ada penyelesaiannya di buku. Alamat sial kembali. Dari mata kuliah yang ada semester ini, bisa dibilang Kimia Organik memegang juara keabsurdan dari segala kuliah. Betapapun niatnya kami memahani persamaan reaksi organik di buku teks, ujiannya hanya mengandalkan insting semata terutama dalam menggambar struktur molekul dan menyelesaikan reaksinya.

  • Semester 4

Semester ini bisa dibilang sebagai fase puncak kesibukan mahasiswa Mikrobiologi. Tanpa ujian, dengan 4 praktikum dalam seminggu saja sudah tidak menyisakan ruang untuk leha-leha. Mata kuliah yang diambil juga tidak sama sekali tidak santai. Di semester ini, ada beberapa mata kuliah yang punya anomali SKS. Contohnya, Fisiologi Mikroba yang berbobot 4 sks ditambah dengan praktikum. Walaupun kelihatannya berat, kami sudah diwanti-wanti oleh para senior agar tidak susah payah belajar karena dari tahun ke tahun soalnya selalu absurd. Alhasil, kami memilih untuk sekedar belajar dengan prinsip nice to know saja. Terbukti, soal yang dikeluarkan benar-benar berbeda dari apa yang dipelajari selama ini di kelas. Anomali lain ada pada kuliah Biologi Sel & Molekuler (BISELMOL). Sebenarnya, kuliah ini “cuma” berbobot 2 sks (setara dengan kuliah Sejarah Desain yang gw ambil di kemudian hari), tetapi materinya benar-benar bikin sakit kepala. Sekali ujian bisa 6 bab sekaligus, dimana membaca satu bab sendiri butuh dua hari. Akhirnya, kami sepakat untuk membagi-bagi bab untuk dibaca baru nantinya didiskusikan bersama. Belajar biselmol ternyata butuh stamina yang tinggi karena membutuhkan berhari-hari untuk membahas materinya. Selain itu, kami juga dituntut untuk begadang sampai pagi. Buat orang yang tidak bisa begadang kayak gw, hal itu agaknya mustahil, tetapi apa boleh buat, the study must go on. Biselmol membuat kita semua pada akhirnya menenggak KRATINGDAENG layaknya supir truk agar tidak lemah, letih,lesu. Ada satu lagi mata kuliah yang tidak terlupakan yaitu Biostatistika. Mata kuliah ini diajar oleh dosen  yang terkenal seenaknya saja dan tidak bisa tepat waktu. Bukti perbuatan si dosen adalah menetapkan UTS jatuh pada hari-H Wisuda ITB. Wisuda di ITB boleh dibilang hari suci bagi segenap civitas akademika ITB, apalagi untuk para himpunan karena junior bertugas untuk mengarak para seniornya yang baru lulus. Alhasil sepanjang perjalanan ke kampus di angkot, sementara penumpang lain mengenakan jahimnya dan semangat untuk mengarak, kami terpaksa menekuni rumus di catatan. Tidak hanya itu, sepanjang mengerjakan soal, latar suara yang ada hanyalah teriakan arak-arakan para himpunan lain😦

  • Semester 5

Semester ini punya tema sentral: molekuler. Tidak hanya teori, kami juga diberi materi praktikum yang serba molekuler. Tetapi, frekuensi tinggi praktikum PCR dan Elektroforesis ternyata berbanding terbalik dengan pemahaman mengenai materinya sendiri. Dengan kata lain, sebagian besar dari kami tetap saja tidak mengerti inti dari materinya. Sewaktu menjelang ujian akhir Proyek Genetika dan Molekuler Mikroba (progenmolmik), banyak dari kami yang tidak tahu harus belajar apa dan merasa pasrah. Kami berkumpul tanpa mengetahui materi apa yang harus kami bahas bersama, jadi kami memutuskan untuk masak-masak, menonton tv kabel, bergosip, sampai akhirnya belajar baru dimulai pada pukul 2 dini hari. Yak, hasilnya sudah bisa ditebak. Keesokan harinya setelah ujian, sebagian dari kami merasa sangat frustasi karena benar-benar blank. Tapi siapa yang bisa disalahkan? Terlepas dari dosennya tidak mengajar dengan baik dan sistematis, kami tidak bisa mengerjakannya karena sebenarnya kami belum berusaha semaksimal itu dalam mencari celah dan mendalami molekuler. Apalagi di kemudian hari gw mengetahui bahwa molekuler sangat dibutuhkan terutama di dunia kerja. Yang tidak bisa gw lupakan dari ujian itu adalah bahwa selama gw kuliah di ITB, baru ujian ini yang membuat gw sangat depresi. Di lain sisi, gw belajar bahwa jangan mudah menjauhi sesuatu yang sepertinya tidak kita sukai. Justru kita harus mencari celah untuk dapat belajar lebih banyak lagi tentang hal tersebut. Dalam konteks ini gw juga mengerti mengapa belajar punya porsi kemiripan dengan berjihad. Semuanya tentang perjuangan sampai titik penghabisan.

  • Semester 6

Semester ini SKS yang harus kami ambil mulai berkurang. Akan tetapi, tidak berarti kami bisa santai-santai juga. Praktikum Prinsip Teknik Fermentasi (PTF) membuat kami mengenal lab dengan lebih baik karena mengharuskan kami menginap selama di lab. Praktikum ini bersifat mandiri jadi kami seperti disiapkan untuk tugas akhir nanti. Padatnya praktikum ditambah dengan acara pameran makanan fermentasi angkatan membuat beberapa di antara kami tumbang. Menjelang UAS PTF, salah satu dari kami, Zara, didiagnosis mengidap DBD sehingga harus dirawat inap di RSHS. Sebenarnya kami belum belajar PTF sama sekali, tetapi kondisi Zara yang semakin menurun membuat kami wajib mengantarnya ke RSHS dan menungguinya di sana sampai orang tuanya datang. Selama di RSHS, kami menunggui Zara tanpa menyentuh bahan ujian sama sekali karena takut membuatnya stress tidak bisa ikut ujian. Ketika pacarnya datang, barulah kami memulai untuk belajar dalam suara kecil agar tidak mengganggu Zara yang ingin beristirahat. Momen itu tidak terlupakan buat gw karena kami mengerti arti prioritas dalam hidup. Kewajiban kami tentulah belajar untuk menghadapi UAS, tetapi rasa kepedulian kami yang tinggi terhadap salah satu dari teman kami sementara mengalahkan prioritas tersebut. Di sini, pembelajaran lain yang gw dapatkan adalah persahabatan yang tulus di antara kami.

 

Begitulah sekelumit cerita mengenai kegiatan belajar dan ujian di antara gw dan teman-teman selama ini. Semester 7 masih berlangsung jadi belum bisa gw ceritakan di sini.🙂

Semester depan kami akan mulai fokus pada tugas akhir dan skripsi. Gw sendiri tidak akan mengambil mata kuliah karena sks gw sudah tuntas.

Dengan kata lain, semester ini adalah terakhir kalinya gw belajar bersama mereka untuk ujian.

I’m sure that i’m gonna miss them all after all what we had this time.

Semoga semua ilmu yang telah kami pelajari dan diskusikan bersama dapat bermanfaat bagi kehidupan kami di hari nanti🙂

In college, you will find the most important lectures: the study of life.

Love Microbabes❤

Ini dia para Microbabes (ki-ka): nana, anti, kasha, amel, zara, desy

 

Adios!

One comment

  1. hei amel, gw br aja blog walking ke blog lo.
    Aaah..baca tulisan ini jadi berasa flashback ke jaman mahasiswa🙂

    -venessa-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: